HUT Kemerdekaan RI adalah pembuktian diri untuk kemerdekaan diri


Tujuh belas agustus merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak ? Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, Indonesia berada di puncak kejayaannya. Setelah berhasil mengusir penjajah dan memerdekakan diri, kini tanggal bersejarah itupun selalu diperingati setiap tahunnya. Banyak insan yang mendefinisikan dan memaknakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Seperti : menang dalam berbagai perlombaan, mampu meningkatkan etos kerja karyawannya, berprestasi di sekolah, mampu menciptakan inovasi terbaru, membawa nama harum indonesia di kancah nasional maupun internasional, dan masih banyak lagi. Tak terkecuali aku.
Kemerdekaan bagiku adalah ketika aku mampu keluar dari zona yang biasa dan melakukan hal-hal yang luar biasa. Kemerdekaan ke tujuh puluh tiga tahun Republik Indonesia ini, sangat terkesan dan terekam di memori ingatanku. Sehingga menarik untuk disemanyamkan dalam bentuk tulisan.

14 Agustus 2018
Hari yang penuh drama. Pagi tadi aku mendapatkan selembar surat undangan rapat yang tertuju untuk seluruh mahasiswa yang tinggal di sekitaran RW 06 tlogomas malang. Aku pun berusaha menyempatkan diri untuk tiba pada rapat yang diselenggarakan pada malam 15 agustus itu. Namun apadaya, keadaan tak mendukung. Malam itu aku telat tiba di kos, dan malu untuk menghadiri rapat yang mungkin sebentar lagi akan bubar. Dengan sikap masa bodoh yang aku ambil, ku pikir ini adalah solusi terbaik. Ternyataaaa berbanding terbalik.
15 Agustus 2018
(diberitahukan kepada seluruh anak kos, untuk mengikuti acara jalan santai dalam rangka Kemerdekaan RI kelurahan tlogomas.................)
Kalau bukan karena perintah ibu kos, yang sangat menganjurkan untuk anak-anak kosnya ikut serta dalam memeriahkan dan meramaikan acara. Mungkin aku, takkan mendapatkan pengalaman berharga ini.
Pukul 05.15, aku dan temanku, ifa. Mengikuti rangkaian acaranya. Setelah diakhiri dengan senam bersama, seperti ada yang memanggil namaku dari belakang. Sempatku menoleh dan menghadapnya, ternyata beliau guru ngajiku. “Mbak yanti, kamu tolong ikutserta dalam kepanitiaan tujuh-belasan ya, bapak amanahkan ke kamu karena panitianya sangat sedikit.” Ujar bapak. Sentak aku langsung mengiyakan permintaannya. Awalnya berat sih, tapi bagiku ini adalah tantangan yang tak biasa. Bergabung bersama mereka yang berbeda budaya dan bahasa. Akhirnya kolaborasi kami, “BERSATU DAN PADU”.
Dengan persiapan kurang lebih dua hari. Kami dituntut untuk menampilkan yang terbaik dari apa yang kami punya untuk malam puncak kemerdekaan. Perdebatan yang terjadi adalah hal yang biasa. Hal penting yang harus disegerakan adalah “pemaksimalan usaha”. Setelah beradu argumen, dapatlah sebuah kesimpulan untuk dilaksanakan. Bahwa kami akan menampilkan, “tarian daerah, vokal grup, solo vokal, musikalisasi puisi, dan teater kebangsaan” di malam puncak kemerdekaan nanti. Sebagai pengisi acara, kami juga menggandakan diri sebagai panitia dan pendekorasi ruangan.  Dengan segala keterbatasan dan usaha yang tak ada batasnya. Alhamdulillah, malam itu pun merestui perjuangan.

17 Agustus 2018.

Malam yang mampu membuatku berdebar luar biasa. Setelah dua hari kurang tidur, memikirkan maksimalisasi konsep acara yang akan ditampilkan. Malam ini lah puncak dari segala perjuangan. Dalam waktu yang sangat amat singkat, dengan kualitas diri yang harus meningkat.

IMG-20180817-WA0080.jpgAku adalah wanita pecinta tantangan. Gadis tomboy yang mencintai dunia petualangan, senang menggendong beratnya tas “keril” di alam terbuka, dan tak suka kelembutan. Malam ini harus berubah 360 derajat, dari aku yang biasanya. Ini adalah kesempatan pertamaku membawakan dan mengajarkan “tarian daerah khas kalimantan barat” di tanah perantauan dalam jangka waktu yang sangat amat singkat. Tanpa pengalaman dan pengetahuan yang memadai. Hanya bermodalkan video tarian from youtube dengan sedikit inovasi gerakan dan bismillah. Tarian ini mendapatkan perhatian dan penilaian baik dari warga yang berbondong-bondong mememuhi ruangan balai pertemuan kelurahan tlogomas malam itu. Mungkin ini penerapan dari makna “keluarlah dari zona nyaman”. Setelah penampilan tari yang aku bawakan berhasil memukau banyak warga yang menyaksikannya. 
Hati pun, berbicara dengan sendirinya “itu barusan yanti ? ini mimpi gak ya ? kok bisa ?”.  


Jadi Pelatih Nari ?
Tarian yang kami bawakan adalah Tarian Japin khas melayu Kalimantan Barat. Dengan keterbatasan waktu yang ada, tarian japin menjadi pilihan terbaik kita. Berisikan personil yang mayoritas berasal dari anak daerah timur Indonesia. Dengan latar belakang, adat, bahasa, dan budaya yang berbeda, aku belajar “sabar” lebih mendalam pada kesempatan ini. Dari gerakan yang kaku, susahnya membentuk formasi, belum lagi keras kepala-nya yang susah ditangani. Mampu menggoda aku untuk mengatakan kalimat “MENYERAH”. Mengingat lagi, ini moment yang tidak mungkin semua orang seberuntung aku, kalimat itupun aku tepis dan ego kusingkirkan.

Ketika aku berada diatas panggung, sejauh mata memandang, ada salah satu dosenku yang menyaksikan penampilan tarianku. Sedikit bangga, banyak terharunya.   
Setelah perjuangan panjang terlewati dengan indahnya, the last, buah hasil perjuangan yang mampu membuat aku meneteskan air mata, saking bahagianya. 
Dan semenjak itulah, timbul prinsip di jiwaku. “ AKU PANTANG UNTUK DITANTANG”. 


Sesimple itu, makna kemerdekaan bagiku. Bagaimana makna kemerdekaan bagimu ?

Komentar